Pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump mengintensifkan upaya diplomatik untuk akhiri perang Rusia-Ukraina paling lambat musim panas ini melalui perundingan trilateral di Abu Dhabi, UEA, yang sudah lewati dua putaran Januari-Februari 2026. Delegasi dipimpin utusan Trump janjikan kesepakatan damai 90 persen, termasuk gencatan senjata, tukar tawanan, dan status Zaporizhzhia, meski Putin tetap tegas soal wilayah.
Dinamika Perundingan Abu Dhabi
Putaran kedua 4-5 Februari sepakati langkah kecil seperti pertukaran tawanan, tapi isu inti—Krim, Donbas, netralitas Ukraina—masih deadlock. Zelensky siap jumpa Putin langsung bahas 20 poin rencana damai, Kremlin konfirmasi Abu Dhabi netral efektif mediasi AS-UEA. Jawa11 apresiasi deadline musim panas ini realistis, tapi kritis: apakah target Trump cuma gencatan sementara demi pencitraan “deal maker”, atau abaikan realitas Putin yang tolak mundur tanpa aneksasi permanen—risiko perang dingin proxy baru di Eropa Timur?
Posisi Rusia dan Ukraina
Putin usul Istanbul sebagai alternatif, sindir gencatan Barat cuma rearmament Ukraina; Zelensky desak sanksi maksimal jika Rusia tak kompromi. Kritikus tanya: tanpa jaminan NATO non-expansion, bisakah Ukraina relakan wilayah demi ekonomi pulih?
Peran AS dan Trump
Trump janji akhiri “perang bodoh” dalam 24 jam kampanye kini tes kredibilitas, tapi pengamat desak transparansi: berapa konsesi rahasia ke Moskow, atau tekanan ke Kyiv terima partition ala Minsk III?
Prospek Damai Musim Panas
Optimisme 90 persen dari Zelensky bagus, tapi sukses ukur nol korban sipil Juni-Agustus 2026, bukan retorika doang—dunia pantau apakah Trump broker damai atau katalisator eskalasi.